Abstract: Acara Penghargaan IAI Awards 2011 yang berlangsung seiring dengan Musyawarah Nasional (MuNas) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ke XIII ini mengambil tema “arsitektur yang berbagi”.
Dari pemahaman umum mengenai arsitek dan peran profesinya, hakekat berarsitektur adalah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan lingkungannya. Berangkat dari kesepakatan tersebut dapat dimengerti bahwa melalui praktik profesinya arsitek mempunyai kesempatan, sekaligus tanggung jawab, untuk menggunakan dan membagikan keahliannya kepada masyarakat luas.
Berbagi kepada sesama manusia adalah cermin buah pikir arsitek dalam memberikan solusi. Berbagi kepada lingkungan merupakan etika utama arsitek dalam menjaga dan bertanggungjawab kepada kehidupan secara luas. IAI Awards 2011 mengambil tema Arsitektur Berbagi sebagai dasar untuk mencari dan menetapkan karya-karya arsitek Indonesia yang dianggap terbaik dalam konsep berbagi untuk sesama dan berbagi kepada bumi.
Pada penyelenggaraan IAI Awards 2011 penghargaan tidak hanya diberikan bagi karya bangunan arsitektur, namun juga karya kawasan dan karya tulis arsitekur.
Untuk kategori karya desain arsitektur, baik bangunan maupun kawasan, peserta adalah para anggota IAI yang telah memiliki Sertifikat Kehalian atau arsitek ber-SKA. Sementara untuk kategori karya tulis arsitektur, peserta merupakan kalangan umum yang telah memiliki karya tulis di bidang arsitektur yang telah dipublikasikan di media cetak nasional maupun daerah.
Bertindak selaku juri IAI Awards 2011 ini adalah para arsitek praktisi, akademisi, penulis dari berbagai daerah serta tokoh masyarakat sebagai wakil dari kalangan umum. Kesepuluh Dewan juri terdiri atas Imelda Akmal selaku ketua dengan anggota Prof. Yulianto Sumalyo IAI, Eko Alvarez IAI, Ikaputra IAI, Isandra Matin Ahmad IAI, Tan Tik Lam IAI, Daliana Suryawinata.
Selain ketujuh juri dari kalangan arsitek tersebut, turut pula sosiolog Imam Prasodjo serta dua arsitek internasional Winny Maas (MVRDV) dari Belanda dan Momoyo Kaijima (Atelier Bow Wow) dari Jepang.
Hadirnya kedua juri internasional ini selain dapat turut memberi pertimbangan atas desain para peserta, juga diharapkan dapat memberi arti lebih akan ajang IAI Awards 2011 ini ke dunia arsitektur internasional.
Penjurian kategori bangunan karya arsitektur dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama seluruh karya yang telah diverifikasi oleh masing-masing pengurus IAI Daerah dan Cabang tempat lokasi karya berada, diseleksi oleh para juri nasional untuk menentukan 25 karya nominasi penerima penghargaan.
Dari 77 karya yang diterima, 62 karya berhak mengikuti penjurian, sementara sisanya tidak memenuhi persyaratan SKA arsitek dan batas minimum lama terbangun bangunan yaitu minimum satu tahun. Dewan juri bersepakat membagi kategori karya bangunan ini berupa (1) bangunan rumah, hunian dengan luasan (1a) 0-200m2, (1b) hunian 200-1000m2, (1c) hunian diatas 1000m2, (2) bangunan public/umum, (3) bangunan komersial, dan (4) bangunan konservasi. Dari ke 62 karya tersebut, terpilih sebanyak 29 karya berhak mengikuti penjurian tahap kedua berupa kunjungan visitasi ke masing-masing karya.
Pada penjurian tahap kedua ini, dewan juri mengunjungi masing-masing karya nominasi untuk dapat melihat langsung dan merasakan keberadaan obyek karya nominasi tersebut. Dengan demikian bias informasi yang ditampilkan hanya dalam bentuk foto pada penjurian tahap pertama dapat diminimalisir. Dalam kunjungannya ke masing-masing lokasi karya nominasi di tiap daerah, para juri didampingi oleh perwakilan pengurus dari masing-masing IAI Daerah dan Cabang lokasi karya nominasi tersebut.
Di penjurian tahap ketiga yang melibatkan seluruh anggota dewan juri, diadakan pula pameran ke 29 karya nominasi tersebut di Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat. Acara ini menjadi bagian dari acara Kuliah Umum IAI yang merupakan juga bagian dari rangkaian acara MuNas IAI XIII. Melalui paparan hasil visitasi para juri dan diskusi yang panjang, sembilan dari sepuluh juri yang hadir bersepakat menetapkan 8 (delapan) karya yang berhak menerima penghargaan karya arsitektur, sedangkan untuk kategori kawasan tidak ada peserta.
Pengumuman kedepalan karya penerima penghargaan IAI Awards 2011 tersebut dilakukan pada acara MuNas IAI XIII 2011 yang berlangsung akhir November 2011 di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Untuk kategori bangunan rumah tinggal, terpilih masing-masing: Rumah 51 Jakarta karya Sontang M. Siregar, IAI dan Pori-pori House Depok karya Budi Pradono, IAI untuk hunian 0-200m2, Rumah Gelagah Depok karya Sukendro Prioso, IAI dan Jeffry Sandy, IAI untuk hunian 200-1000m2 dan tidak ada karya penerima penghargaan untuk hunian diatas 1000m2.
Untuk bangunan komersial terpilih Hotel Sensa Bandung karya Budiman Hendropurnomo, IAI dan Taman Ahimsa Bali karya Ketut Arte, IAI.
Sementara itu Gedung Kementerian Perdagangan RI Jakarta karya Budiman Hendropurnomo, IAI dan Surau Baitul Jalil Sumatra Barat karya Timmy Setiawan, IAI terpilih untuk kategori bangunan umum Publik.
Karya terakhir adalah Konservasi rumah tradisional Waerebo Nusa Tenggara Timur karya Gregrorius Antar Awal IAI.
Untuk kategori karya tulis arsitektur, dari 9 karya tulis yang masuk, hanya 5 yang memenuhi syarat penjurian. Dewan juri sepakat memilih karya tulis berjudul “Kota Masa Depan yang Aksesibel” oleh Harry Kurniawan yang dimuat pada harian Kompas Minggu rubrik Desain sebagai penerima penghargaan pujian. (TS).
Hotel Sensa, Bandung - Budiman Hendropurnomo, IAI
Kementerian Perdagangan RI, Jakarta - Budiman Hendropurnomo, IAI
Pori-pori House, Depok - Budi Pradono, IAI
Rumah 51, Jakarta - Sontang M Siregar, IAI
Rumah Gelagah, Depok - Sukendro Prioso, IAI & Jeffry Sandy, IAI
Surau Baitul Jalil, Sumbar - Timmy Setiawan, IAI
Taman Ahimsa, Bali - Ketut Arte, IAI
Waerebo, NTT - Gregorius Antar, IAI